Di sebuah desa di lereng pegunungan Bukit Barisan, aku mempunyai seorang bibi, atau tegasnya saudara sepupu ibu saya. Bibi ini menjadi satu kenangan bagiku karena ada cirri istimewanya, yakni sangat sangat peliiiiiiit sekali. Dan kepelitannyan itulah yang menjadi sumber inspirasi ceritaku ini.
Ayah bibiku ini adalah saudara kandung kakekku, dan aku panggil dia kakek tua. Orangnya cukup berada dibandingkan orang lain di desa kami. Kakek tua hanya memiliki seorang anak, yakni bibiku. Sementara bibiku sendiri tidak punya anak. Dan ditinjau dari usianya yang sudah enampuluh lima tahun, tidak lagi memungkinkan untuk melahirkan seorang anak. Harta yang diwariskan oleh kakek tuaku kepada bibi adalah sebuah rumah panggung besar, dimana sejak zaman Belanda rumah ini dijadikan sebagai klinik seminggu sekali. Lebih kurang seratus ekor sapi dan padang penggembalaan seluas tujuh hektar. Ada sawah dan kolam ikan di tiga lokasi total luasnya delapan hektar. Ada juga peternakan ayam kampong, kebun salak dan yang seru adalah kebun pisang dan jeruk sunkis lokal.
Setiap musim liburan, aku selalu mengunjungi bibi ke desanya. Menghabiskan masa libur di sana memang sangat mengasyikkan, karena banyak kegiatan yang bias kulakukan. Pagi pagi, sebelum matahari terbit, melepaskan ayam dari kandang dan memberi mereka makan jagung. Sesudah itu menemani bibi mengarak lembu dari kandang ke penggembalaan. Enaknya, bisa sambil menunggang kuda, karena bibi juga memiliki dua ekor kuda. Siang menabur makanan ikan di kolam. Makanannya tepung jagung campur desak, dan irisan pelepah keladi. Mulut ikan itu pada monyoooong semua kalau kita sudah dating. Musim liburan adalah bulan desember dan bulan juni, dimana pada kedua bulan tersebut adalah musim buah jeruk. Naaaaah disinilah serunya. Karena bibi sangat pelit, maka kalau buah jeruk diambil di pokoknya, bibi pasti melarang. Maka biasanya aku dengan bapak tua (suami bibi) sore sore menjolok buah jeruk yang sudah masak, kemudian meletakkannya berserakan dibawah pohon seakan-akan jatuh sendiri. Nah, besok subuh bibi akan melihat buah berserakan ketika mau melepas ayam. Maka dia akan berteriak memanggilku, untuk membawa bakul karena buah jeruk sudah banyak yang berjatuhan. Maka puaslah hari ini makan jeruk, tanpa harus dipelototi oleh bibi karena kepelitannya. Demikian juga dengan telur ayam, diambil dari sangkak (tempatnya bertelur, gulingkan di dasar kandang. Bibi berkesimpulan telur yang sudah terguling tidak mungkin lagi menetas, jadi lebih baik digoreng sebelum membusuk. Yang lebih hebat lagi, di peternakan ayam bibiku, ada jerat musang. Karena musang memang sering mencuri ayam bibiku. Kepingin makan ayam, oleh bapa tua ditangkap ayam jantan yang bagus, lalu letakkan pada jerat musang, kakinya terjepit dan terluka. Bibi akan berkesimpulan ayam ini tidak lagi sehat, harus disembelih untuk digulai. Hmmmmm makan enak hari ini. Tapi untuk jerat musang hanya boleh satu kali, karena kalau sering, bias bias bibi curiga. Kalau untuk buah jeruk jatuh, boleh berkali-kali.
Satu kali, bibi mengundang kami datang ke kampung karena beliau kurang sehat, kena flu. Lalu oleh ibu ditanya, makanan apa yang dia suka ? Apakah ayam dipotong, atau ambil ikan di kolam. Mungkin karena rasa rugi kalau ayam, maka dia putuskan untuk mengambil ikan di kolam. Kamipun berangkatlah bertiga membawa tangguk. Tanggukan pertama dapat ikan kira kira delapan ons, kata bibi jangan yang itu. Mungkin kurang besar piker ibu, ditangguknya yang lebih besar. Bibi menggeleng, dan ikanpun dilepas. Maksud ibu mau menangguk yang lebih besar lagi tapi meleset dan tertangguklah yang beratnya kira kira tiga ons. Nah, itu saja….kata bibi. Ibu menatapnya terperangah. Ibu heran, jauh jauh dari rumah kok yang diambil hanya ikan sekecil itu. Mana cukup untuk lauk berempat. Tapi bibi tersenyum. Katanya nanti kita tambahkan daun singkong yang banyak, biar cukup. Dasar pelit, untuk perutnya saja, masih merasa rugi.
Sesuai dengan iklimnya, kampong kami bukanlah daerah habitat durian. Durian adalah buah-buahan yang mewah bagi kami. Sekali waktu, tatkala musim durian, banyak durian didatangkan pedagang dari kota dataran rendah ke pegunungan, ke kota didekat desa kami. Bibi menyuruhku membeli durian untuk kami makan di rumahnya. Waktu makan durian, kata bibi bijinya jangan dibuang, nanti kita rebus, rasanya enak seperti ubi. Kulitnya juga jangan dibuang ketempat sampah, biar dikeringkan. Karena kulit durian dapat dibakar di kandang lembu sebagai pengusir nyamuk. Semua berguna dimata bibi. Dan dengan caranya ini, harta kekayaan bibi semakin bertambah.
Ketika aku baru mulai kuliah di Yogyakarta, bapa tua (suami bibi), meninggal karena sakit tua, dan sejak itu kondisi bibi pun semakin menurun. Tahun keempat aku di Yogyakarta, aku mendapat kabar dari ibu bahwa bibi sakit keras. Dan ketika beliau dipanggil Tuhan, saya tidak bisa pulang karena berketepatan musim ujian semester. Kuingan semua yang telah kulakukan didalam mengimbangi kepelitan bibi, dan dengan khusuk aku berdoa kiranya diampuni Tuhan, serta mendoakan keselamatan arwah beliau.
Setahun setelah itu, aku berkesempatan pulang ke desa, aku tanya ibu mengenai harta benda almarhum bibi saya. Lembu dibagikan kepada keponakan-keponakan yang kerjanya bertani. Ada yang berhasil menambah ternaknya, ada yang malah diam-diam menjualnya. Rumah dan sawah diserahkan kepada saudara sepupunya yang laki-laki. Padang penggembalaan telah ditanami kayu jati putih oleh keluarga besar, sebagai lambing kesatuan keluarga. Ibuku, sebagai saudara wanitanya terdekat mendapat satu ember uang perak (Gulden) yang dikumpulkan kakek tua pada masa penjajahan. Uang perak itu sudah dijual ibu kepada pedagang emas, dan telah digunakannya untuk merehab rumah kami,
Itulah bibiku, bersusah payah dia memelihara harta warisan ayahnya, dan menambahnya menjadi berlipat, kemudian dimasa tuanya, dibagi bagikan kepada banyak orang tanpa peersetujuannya, karena dia tidak membuat surat wasiat. Yang kusayangkan adalah, mengapa ketika bibi meninggal, aku tidak berada di kampong, sehingga aku tidak kebagian apa-apa. Sebagai penghormatan, keluarga besar ibu saya telah membuat satu tugu persatuan sebagai tanda keberadaan kakek dan bibi kami yang pernah ada di desa kami. Selamat jalan bibi. Medan 31082008.


Komentar Terakhir