Oleh: mabiringna | Agustus 24, 2008

PERJUANGAN DAN TILAS PEJUANG

Dua tahun lalu, keluarga besar Generasi Penerus Pejuang Eks TNI Sektor III Sub Territorium VII kedatangan tamu dari Yayasan Purna Juang, yakni Bapak Mayoor Purnawirawan  Oetario, yakni Eks Ajudan dari  Panglima Terr VII Wilayah Sumatera,  Kol. AE. Kawilarang. 

Ketika kami sampai di bukit yang dipenuhi padang ilalang itu,   Eks Mayoor yang sudah tua itu dengan tertatih tatih naik keatas Bukit Silimbur Rih, di Desa Bawang Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun.  Tugu tersebut didirikan oleh para pejuang sebagai peringatan atas peristiwa tertembaknya Bapak Aleks Kawilarang di lokasi tersebut oleh tentara Belanda pada pertempuran Karo Area (meminjam istilah mendiang Kol. AR. Surbakti) pada tahun 1949.    Pertempuran itu sendiri terjadi ketika Rombongan Panglima akan bergerak dari Simalungun Atas menuju Karo Selatan, dan titik pos peristirahatan sudah ditetapkan di Desa Bawang, tanah kelahiran ayah saya.

Kembali ke awal cerita, rombongan para pejuang dari Jakarta, selain dari yayasan Purna Juang pimpinan seorang Profesor, (mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia), juga ada serombongan dari Yayasan Bina Anak Indonesia, yang telah mempelajari partisipasi dan pengorbanan rakyat ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa khususnya masa Agresi I dan Agresi II, terdorong hatinya (setidaknya demikian yang mereka sampaikan) untuk membangun sekolah, sejenis dengan  yang sudah berdiri  di Jawa Barat.  Konon rencana ini disetujui juga oleh bapak Prof. Dr. Subroto, yang ketika itu ceritanya sedang berada di Wiena Austria.

Selanjutnya, dua tahun setelah itu, hari ini dua belas agustus dua ribu delapan, aku (sendirian dari kota) hadir kembali di bukit berdirinya Tugu Peringatan Perjuangan tersebut.  Perjalananku kali ini hanya ditemani oleh keponakanku, seorang sekretaris desa (Sekretaris Nagori) bernama Leutnan. Nama ini bersejarah dari  cita-cita  bapaknya seorang prajurit TNI yang ternyata pensiun dengan pangkat Sersan Mayoor, tidak mampu mencapai Letnan.

 Disamping tugu yang ada di Desa Bawang, masih ada beberapa tugu yang didirikan atas dasar  pertempuran TNI Sektor III dengan tentara penjajah antara tahun 1947 – 1949. Yang cukup megah bangunannya adalah di Desa Bertah Kecamatan Kabanjahe, peringatan atas pertempuran yang sangat sengit dan menewaskan Komandan Kompi  Batalion I  Kapten Pala Bangun.  Di Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi, persisnya di Desa Lau Meciho, juga ada tugu peringatan yang mengenang pertempuran yang dipimpin oleh Mayoor Selamat Ginting yang dikenal dengan istilah Pa Kilap (Halilintar). Juga di desa Kempawa, desa Rante Besi, desa Juhar Perinte.  Dan saya ragu apakah tugu tugu itu ada yang mengunjung pada hari-hari semarak ini.

Dalam keheningan kami berdua diatas bukit itu, kusenandungkan lagu perjuangan yang diciptakan oleh Almarhum Djaga Depari pada masa perjuangan itu, (Penerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia Tahun 1979).  Mari kita dengarkan sama sama.

SORA MIDO

OLEH DJAGA DEPARI

 

TERBEGI SORA BULUNG BULUNG ERDESO

IBABO MAKAM PAHLAWAN SILINO

BANGUNNA SORA SERKO MEDODO

CAWIR CERE SORANA MIDO IDO 2X

 

SERAWIDIPUL MESENG KUTANTA NDUBE

ILUH SI LUMANG RAS SIBALU BALU ERDIRE DIRE

SORA NDEHERENG PE RENGE RENGE KAL ATE

TINATA NGAYAK NGAYAK MERDEKA NDUBE 2X

 

ENGGO KAP MEGARA LAU LAWIT BAN DAREH SIMBISANTA

ENGGO KAP MEGERSING LAU PAYA IBAN ILUH TANGISTA

ENGGO KAP MBIRING LANGIT PERBAN CIMBER MESENG KUTANTA NDUBE

DE NGAYAK NGAYAK GELAH MERDEKA NDUBE 2X

 

EMAKA TANGARLAH SINCIKEP LAYAR LAYAR

OLA MERANGAP OLA JAGAR JAGAR

KESAH RAS DAREH KAL NDUBE TUKURNA MERDEKA ENDA

OLA KAL LASAM PENGORBANEN BANGSANTA 2X

 

TEGU ME DAGE BAPA NANDE SIENGGO CEMPANG

DIDONG DOAH ANAK SIENGGO LAMPAS TADING MELUMANG

KELENG ATETA RAS PEDAME SI SADA KARANG

EM PERTANGISEN KALAK LAWES BERJUANG 2X

 

TERJEMAHAN

 

TERDENGAR SUARA GEMERISIK DEDAUNAN

PADA SEBUAH MAKAM YANG SEPI

BAGAIKAN SUARA  RINTIHAN  TERSEDU SEDU

SAYUP SAYUP MENDAYU DAYU PILU

 

GUMPALAN ASAP  TERBAKARNYA KAMPUNG KITA

AIR MATA ANAK YATIM DAN JANDA –JANDA  BERDERAI DERAI

SUARA RINTIHAN PUN MEMBAWA DUKA SEMAKIN PILU

INILAH KARENA MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN

 

AIR LAUT PUN MEMERAH TUMPAHAN DARAH PAHLAWAN

AIR PAYA DAN RAWA PUN MENGUNING TUMPAHAN AIR MATA RAKYAT

LANGITPUN MENGHITAN KARENA ASAP API PEMBAKAR KAMPUNG

DEMI MEMPERJUANGKLAN SEBUAH KEMERDEKAAN

 

OLEH SEBAB ITU TEGARLAH WAHAI PEMIMPIN BANGSA

JANGAN RAKUS DAN JANGAN BERMAIN MAIN

SEBAB NYAWA, DARAH DAN AIRMATA TEBUSAN KEMERDEKAAN INI

JANGAN SIA SIAKAN PENGORBANAN BANGSA

 

PAPAHLAH PARA ORANG TUA KITA YANG TELAH CACAD DALAM PERANG

PELIHARA DAN ASUHLAH ANAK-ANAK YATIM PIATU KARENA PERANG

CINTA KASIH  DAN DAMAI DIDALAM SATU KESATUAN

ITULAH PERMINTAAN ORANG PERGI BERJUANG

ITULAH HARAPAN ORANG YANG PERGI BERJUANG…………………………………..

  

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA, MERDEKAAAAAAAAAA.

 

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.