Dua tahun lalu, keluarga besar Generasi Penerus Pejuang Eks TNI Sektor III Sub Territorium VII kedatangan tamu dari Yayasan Purna Juang, yakni Bapak Mayoor Purnawirawan Oetario, yakni Eks Ajudan dari Panglima Terr VII Wilayah Sumatera, Kol. AE. Kawilarang.
Ketika kami sampai di bukit yang dipenuhi padang ilalang itu, Eks Mayoor yang sudah tua itu dengan tertatih tatih naik keatas Bukit Silimbur Rih, di Desa Bawang Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun. Tugu tersebut didirikan oleh para pejuang sebagai peringatan atas peristiwa tertembaknya Bapak Aleks Kawilarang di lokasi tersebut oleh tentara Belanda pada pertempuran Karo Area (meminjam istilah mendiang Kol. AR. Surbakti) pada tahun 1949. Pertempuran itu sendiri terjadi ketika Rombongan Panglima akan bergerak dari Simalungun Atas menuju Karo Selatan, dan titik pos peristirahatan sudah ditetapkan di Desa Bawang, tanah kelahiran ayah saya.
Kembali ke awal cerita, rombongan para pejuang dari Jakarta, selain dari yayasan Purna Juang pimpinan seorang Profesor, (mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia), juga ada serombongan dari Yayasan Bina Anak Indonesia, yang telah mempelajari partisipasi dan pengorbanan rakyat ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa khususnya masa Agresi I dan Agresi II, terdorong hatinya (setidaknya demikian yang mereka sampaikan) untuk membangun sekolah, sejenis dengan yang sudah berdiri di Jawa Barat. Konon rencana ini disetujui juga oleh bapak Prof. Dr. Subroto, yang ketika itu ceritanya sedang berada di Wiena Austria.
Selanjutnya, dua tahun setelah itu, hari ini dua belas agustus dua ribu delapan, aku (sendirian dari kota) hadir kembali di bukit berdirinya Tugu Peringatan Perjuangan tersebut. Perjalananku kali ini hanya ditemani oleh keponakanku, seorang sekretaris desa (Sekretaris Nagori) bernama Leutnan. Nama ini bersejarah dari cita-cita bapaknya seorang prajurit TNI yang ternyata pensiun dengan pangkat Sersan Mayoor, tidak mampu mencapai Letnan.
Disamping tugu yang ada di Desa Bawang, masih ada beberapa tugu yang didirikan atas dasar pertempuran TNI Sektor III dengan tentara penjajah antara tahun 1947 – 1949. Yang cukup megah bangunannya adalah di Desa Bertah Kecamatan Kabanjahe, peringatan atas pertempuran yang sangat sengit dan menewaskan Komandan Kompi Batalion I Kapten Pala Bangun. Di Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi, persisnya di Desa Lau Meciho, juga ada tugu peringatan yang mengenang pertempuran yang dipimpin oleh Mayoor Selamat Ginting yang dikenal dengan istilah Pa Kilap (Halilintar). Juga di desa Kempawa, desa Rante Besi, desa Juhar Perinte. Dan saya ragu apakah tugu tugu itu ada yang mengunjung pada hari-hari semarak ini.
Dalam keheningan kami berdua diatas bukit itu, kusenandungkan lagu perjuangan yang diciptakan oleh Almarhum Djaga Depari pada masa perjuangan itu, (Penerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia Tahun 1979). Mari kita dengarkan sama sama.
SORA MIDO
OLEH DJAGA DEPARI
TERBEGI SORA BULUNG BULUNG ERDESO
IBABO MAKAM PAHLAWAN SILINO
BANGUNNA SORA SERKO MEDODO
CAWIR CERE SORANA MIDO IDO 2X
SERAWIDIPUL MESENG KUTANTA NDUBE
ILUH SI LUMANG RAS SIBALU BALU ERDIRE DIRE
SORA NDEHERENG PE RENGE RENGE KAL ATE
TINATA NGAYAK NGAYAK MERDEKA NDUBE 2X
ENGGO KAP MEGARA LAU LAWIT BAN DAREH SIMBISANTA
ENGGO KAP MEGERSING LAU PAYA IBAN ILUH TANGISTA
ENGGO KAP MBIRING LANGIT PERBAN CIMBER MESENG KUTANTA NDUBE
DE NGAYAK NGAYAK GELAH MERDEKA NDUBE 2X
EMAKA TANGARLAH SINCIKEP LAYAR LAYAR
OLA MERANGAP OLA JAGAR JAGAR
KESAH RAS DAREH KAL NDUBE TUKURNA MERDEKA ENDA
OLA KAL LASAM PENGORBANEN BANGSANTA 2X
TEGU ME DAGE BAPA NANDE SIENGGO CEMPANG
DIDONG DOAH ANAK SIENGGO LAMPAS TADING MELUMANG
KELENG ATETA RAS PEDAME SI SADA KARANG
EM PERTANGISEN KALAK LAWES BERJUANG 2X
TERJEMAHAN
TERDENGAR SUARA GEMERISIK DEDAUNAN
PADA SEBUAH MAKAM YANG SEPI
BAGAIKAN SUARA RINTIHAN TERSEDU SEDU
SAYUP SAYUP MENDAYU DAYU PILU
GUMPALAN ASAP TERBAKARNYA KAMPUNG KITA
AIR MATA ANAK YATIM DAN JANDA –JANDA BERDERAI DERAI
SUARA RINTIHAN PUN MEMBAWA DUKA SEMAKIN PILU
INILAH KARENA MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
AIR LAUT PUN MEMERAH TUMPAHAN DARAH PAHLAWAN
AIR PAYA DAN RAWA PUN MENGUNING TUMPAHAN AIR MATA RAKYAT
LANGITPUN MENGHITAN KARENA ASAP API PEMBAKAR KAMPUNG
DEMI MEMPERJUANGKLAN SEBUAH KEMERDEKAAN
OLEH SEBAB ITU TEGARLAH WAHAI PEMIMPIN BANGSA
JANGAN RAKUS DAN JANGAN BERMAIN MAIN
SEBAB NYAWA, DARAH DAN AIRMATA TEBUSAN KEMERDEKAAN INI
JANGAN SIA SIAKAN PENGORBANAN BANGSA
PAPAHLAH PARA ORANG TUA KITA YANG TELAH CACAD DALAM PERANG
PELIHARA DAN ASUHLAH ANAK-ANAK YATIM PIATU KARENA PERANG
CINTA KASIH DAN DAMAI DIDALAM SATU KESATUAN
ITULAH PERMINTAAN ORANG PERGI BERJUANG
ITULAH HARAPAN ORANG YANG PERGI BERJUANG…………………………………..
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA, MERDEKAAAAAAAAAA.

Komentar Terakhir