Pada sebuah pembicaraan di Bengkel Mobil Pattimura Service, Jalan Setia Budi kota Medan, aku berbincang bincang dengan Buyung Botak, seorang penarik Betor (Necak Bermotor) yang biasa mangkal di Jalan Kapten Muslim, tepatnya didepan Millenium Plaza, plaza handphone terbesar di Sumatera bagian Utara. Yang membuatku tertarik adalah pengakuannya bahwa dia bersyukur diberi Tuhan rejeki hanya cukup makan, pakaian dan biaya sekolah anaknya yang baru kelas dua sekolah dasar negeri. “Kalau aku dikasi Tuhan rejeki besar, bisa-bisa tercerai berai aku dengan anak biniku” demikian dia berseloroh sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Ketika kutanyakan apa kaitan rejeki besar dengan cerai berai, dia katakan begini, “Pernah sekali waktu aku disuruh A Hok (pedagang HP) mengantar dua kardus kesing ke Binjai, upah ku tiga ratus limpul (Rp. 450.000,_), pulang pulangnya, hampir aku mampir ke Rumah Kitik-kitik (hotel yang disewakan per jam dan penyedia tukang pijat). Kan sudah kotor otakku ini. Jadi baguslah sedikit pendapatan agar tidak terjerumus.”
Sepulang dari bengkel si Ginting itu, kucoba berdialoog dengan hatiku sendiri. Betul juga ya, kalau si tukang beca itu jadi orang kaya, asik main perempuanlah kerjanya. Barangkali banyak manusia di dunia ini, dibuat Tuhan rejekinya pas-pasan, karena menjaga jangan sampai dia terjerumus ke lembah nista. Lalu bagaimana dengan mempunyai rejeki besar tapi sudah menyalaaaah……….

Komentar Terakhir