Oleh: mabiringna | Agustus 30, 2008

kenang kenangan hidup

 

 

Di sebuah desa di lereng pegunungan Bukit Barisan, aku mempunyai seorang bibi, atau tegasnya saudara sepupu ibu saya.  Bibi ini menjadi satu kenangan bagiku karena ada cirri istimewanya, yakni sangat sangat peliiiiiiit sekali.  Dan kepelitannyan itulah yang menjadi sumber inspirasi ceritaku ini.

Ayah bibiku ini adalah saudara kandung kakekku, dan aku panggil dia kakek tua. Orangnya cukup berada dibandingkan orang lain di desa kami.  Kakek tua hanya memiliki seorang anak, yakni bibiku.  Sementara bibiku sendiri tidak punya anak.  Dan ditinjau dari usianya yang sudah enampuluh lima tahun, tidak lagi memungkinkan untuk melahirkan seorang anak.  Harta yang diwariskan oleh kakek tuaku kepada bibi adalah sebuah rumah panggung besar, dimana sejak zaman Belanda rumah ini dijadikan sebagai klinik seminggu sekali.  Lebih kurang seratus ekor sapi dan  padang penggembalaan seluas tujuh hektar. Ada sawah dan kolam ikan di tiga lokasi  total luasnya delapan hektar.  Ada juga peternakan ayam kampong, kebun salak dan yang seru adalah kebun pisang dan jeruk sunkis lokal.

Setiap musim liburan, aku selalu mengunjungi bibi ke desanya.  Menghabiskan masa libur di sana memang sangat mengasyikkan, karena banyak kegiatan yang bias kulakukan.  Pagi pagi, sebelum matahari terbit, melepaskan ayam dari kandang dan memberi mereka makan jagung.  Sesudah itu menemani bibi mengarak lembu dari kandang ke penggembalaan.  Enaknya, bisa sambil menunggang kuda, karena bibi juga memiliki dua ekor kuda.  Siang menabur makanan ikan di kolam.  Makanannya tepung jagung campur desak, dan  irisan pelepah keladi.  Mulut ikan itu pada monyoooong semua kalau kita sudah dating.  Musim liburan adalah bulan desember dan bulan juni, dimana pada kedua bulan tersebut adalah musim buah jeruk.  Naaaaah disinilah serunya.  Karena bibi sangat pelit, maka kalau buah jeruk diambil di pokoknya, bibi pasti melarang.  Maka biasanya aku dengan bapak tua (suami bibi)  sore sore menjolok buah jeruk yang sudah masak, kemudian meletakkannya berserakan dibawah pohon seakan-akan jatuh sendiri.  Nah, besok subuh bibi akan melihat buah berserakan ketika mau melepas ayam.  Maka dia akan berteriak memanggilku, untuk membawa bakul karena buah jeruk sudah banyak yang berjatuhan.  Maka puaslah hari ini makan jeruk, tanpa harus dipelototi oleh bibi karena kepelitannya.  Demikian juga dengan telur ayam, diambil dari sangkak (tempatnya bertelur, gulingkan di dasar kandang.  Bibi berkesimpulan telur yang sudah terguling tidak mungkin lagi menetas, jadi lebih baik digoreng sebelum membusuk.    Yang lebih hebat lagi, di peternakan ayam bibiku, ada jerat musang.  Karena musang memang sering mencuri ayam bibiku.  Kepingin makan ayam, oleh bapa tua ditangkap ayam jantan yang bagus, lalu  letakkan pada jerat musang, kakinya terjepit dan terluka.  Bibi akan berkesimpulan ayam ini tidak lagi sehat, harus disembelih untuk digulai.   Hmmmmm makan enak hari ini.   Tapi untuk jerat musang hanya boleh satu kali, karena kalau sering, bias bias bibi curiga. Kalau untuk  buah jeruk jatuh, boleh berkali-kali.

 

Satu kali, bibi mengundang kami datang ke kampung karena beliau kurang sehat, kena flu.  Lalu oleh ibu ditanya, makanan apa yang dia suka ?  Apakah ayam dipotong, atau ambil ikan di kolam.  Mungkin karena rasa rugi kalau ayam, maka dia putuskan untuk mengambil ikan di kolam.  Kamipun berangkatlah bertiga membawa tangguk.  Tanggukan pertama dapat ikan kira kira delapan ons, kata bibi jangan yang itu.  Mungkin kurang besar piker ibu, ditangguknya yang lebih besar.  Bibi menggeleng, dan ikanpun dilepas.  Maksud ibu mau menangguk yang lebih besar lagi tapi meleset dan tertangguklah yang  beratnya kira kira tiga ons. Nah, itu saja….kata bibi. Ibu menatapnya terperangah.  Ibu heran, jauh jauh dari rumah kok yang diambil hanya ikan sekecil itu. Mana cukup untuk lauk berempat.   Tapi bibi tersenyum.  Katanya nanti kita tambahkan daun singkong yang banyak, biar cukup.  Dasar pelit, untuk perutnya saja, masih merasa rugi.

Sesuai dengan iklimnya, kampong kami bukanlah daerah habitat durian.  Durian adalah buah-buahan yang mewah bagi kami.  Sekali waktu, tatkala musim durian, banyak durian didatangkan pedagang dari kota dataran rendah ke pegunungan, ke kota didekat desa kami.  Bibi menyuruhku  membeli durian untuk kami makan di rumahnya.  Waktu makan durian, kata bibi bijinya jangan dibuang, nanti kita rebus, rasanya enak seperti ubi.  Kulitnya juga jangan dibuang ketempat sampah, biar dikeringkan. Karena kulit durian dapat dibakar di kandang lembu sebagai pengusir nyamuk.  Semua berguna dimata bibi.  Dan dengan caranya ini, harta kekayaan bibi semakin bertambah.

Ketika aku baru mulai kuliah di Yogyakarta, bapa tua (suami bibi),  meninggal karena sakit tua, dan sejak itu kondisi bibi pun semakin menurun.  Tahun keempat aku di Yogyakarta, aku mendapat kabar dari ibu bahwa bibi sakit keras.  Dan ketika beliau dipanggil Tuhan, saya tidak bisa pulang karena berketepatan musim ujian semester.  Kuingan semua yang telah kulakukan didalam mengimbangi kepelitan bibi, dan dengan khusuk aku berdoa kiranya diampuni Tuhan, serta mendoakan keselamatan arwah beliau. 

Setahun setelah itu, aku berkesempatan pulang ke desa, aku tanya ibu mengenai harta benda almarhum bibi saya.  Lembu dibagikan kepada keponakan-keponakan yang kerjanya bertani.  Ada  yang berhasil menambah ternaknya, ada yang malah diam-diam menjualnya.  Rumah dan sawah diserahkan kepada saudara sepupunya yang laki-laki.  Padang penggembalaan telah ditanami kayu jati putih oleh keluarga besar, sebagai lambing kesatuan keluarga.  Ibuku, sebagai saudara wanitanya terdekat mendapat satu ember uang perak (Gulden) yang dikumpulkan kakek tua pada masa penjajahan.  Uang perak itu sudah dijual ibu kepada pedagang emas, dan telah digunakannya untuk merehab rumah kami,

Itulah bibiku,  bersusah payah dia memelihara harta warisan ayahnya, dan menambahnya menjadi berlipat, kemudian dimasa tuanya, dibagi bagikan kepada banyak orang tanpa peersetujuannya, karena dia tidak membuat surat wasiat. Yang kusayangkan adalah, mengapa ketika bibi meninggal, aku tidak berada di kampong, sehingga aku tidak kebagian apa-apa.  Sebagai penghormatan, keluarga besar ibu saya telah membuat satu tugu persatuan sebagai tanda keberadaan kakek dan bibi kami yang pernah ada di desa kami.  Selamat jalan bibi.    Medan 31082008.

 

selamat datang

selamat datang

Iklan
Oleh: mabiringna | Agustus 28, 2008

kenangan masa kecil

Pagi pagi benar, sebelum matahari terbit di celah bukit sebelah timur, kami sudah berangkat dari rumah menuju ke sawah, untuk menghalau burung.   Padi sudah hampir menguning.  Pertanda sebentar lagi masa panen.  Masa panen adalah masa yang paling dinantikan, karena disamping keramaian di sawah, makananpun enak-enak.  Tapi itu belum sekarang. Nanti kalau sudah tiba waktunya.

Subuh-subuh, air embun berkumpul dilembar lembar dedaunan. Ketika tersentuh telapak kaki, tersentuh lutut, bahkan tersentuh oleh lengan, basah dan dingin.  Merinding bulu romaku, menahan dingin.

Sampai di sawah, yang pertama kulakukan adalah memasang api.  Minyak tanah yang kubawa dengan botol limun, tinggal sedikit.  Kukupas tiang  dangau yang terbuat dari bambu agar menjadi serpih-serpih tipis, agar mudah terbakar.  Kayu kayu yang terletak di tanah, semua lembab.  Bahkan ijuk yang ada di sudut dangau juga basah.  Perlahan tapi pasti, api semakin menyala dan mulai membakar ranting ranting yang kutumpuk diatas tungku.  Api membesar, hatiku senang.  Gerombolan burung pipit mulai berdatangan.  Segara kutarik tali mengguncang kotok-kotok dan berbunyi tok tok tok, sambil aku berteriak hoooooooi….hoooooi, burung pun menikung seperti pesawat tempur merubah arah ke petak sawah orang lain.  Kujerangkan air diatas tungku dengan menggunakan ceret seng yang dibelikan ibu di pasar.  Ubi kayu yang bibaya ibu kemarin dari lading, kukupas dan kubakar dipinggir tungku.  Ada gula merah didalam sumpit pandan dan bubuk the cap 37 kesukaan kami sekeluarga.  Makan ubi baker dengan air the dan gula aren, adalah satu kenikmatan di pagi hari.  Kami makan ubi sebagai kesenangan, bukan karena kurang beras. Padi kami berlumbung-lumbung di desa.  Tapi ubi di saat subuh juga nikmat, apalagi ada gosong-gosongnya.  Pahit-pahit manis, sedap rasanya.

Ketika matahari telah naik diatas bukit, aku pergi mandi di pancuran, dan pulang kerumah.   Setelah mengganti baju, kusambar buku buku, dan berangkat kesekolah, bersama – sama dengan anak-anak yang lain.  Kami mempunyai tugas yang berbeda. Ada juga yang kerjanya menghalau burung seperti aku, tapi ada juga teman yang memanfaatkan waktu subuh untuk mengambil rumput untuk makanan ternaknya.  Pernah sekali waktu teman saya terlambat masuk kelas.  Ketika ditanya guru, dia memberi alas an karena menyabit rumput untuk ternaknya.  Pak Guru marah dan menyuruh pulang dan teruslah menyabit rumput.  Sejak itu kami tidak pernah lagi  berani menjadikan hal itu sebagai alas an, kalau kami terlambat masuk sekolah.

Di sekolah, tidak semua murid cukup cerdas.  Beberapa diantara kami dapat dikatakan cukup bodoh, sehingga kadang-kadang pak guru memukul betis kami kalau kami tidak dapat memberikan jawan yang benar atas pelajaran yang diajarkan.  Sebetulnya kena pulul di betis atau kena cubit di perut itu, cukup memalukan.  Tapi bagaimana kami harus mengatasinya, sementara waktu kami untuk belajar hanya saat berada didalam ruang kelas.    Sepulang dari sekolah, sudah banyak tugas-tugas menunggu kami.  Teman-teman yang mempunyai adik, harus menjaga adik-adiknya, sementara ayah dan ibunya bekerja di ladang atau di sawah. Ada juga teman saya yang sepulang sekolah membantu mangambilkan air dari pancuran untuk kedai kopi.  Dia mendapat upah yang dikumpulkan untuk membeli baju kalau nanti kenaikan kelas, supaya bias berbaju baru.  Ada juga yang harus menggembalakan sapi dan kerbaunya sampai sore, dan membawanya pulang ke desa.  Aku sendiri tidak terlalu banyak yang harus kukerjakan, karena aku tidak mempunyai adik.  Aku adalah anak bungsu.  Sepulang sekolah, aku biasanya menyusul ibu ke lading atau ke sawah.  Aku membantu ibu sekehendakku.  Ibu berfikir bahwa membuatku lelah bekerja dapat membuatku menjadi bodoh.  Prinsip beliau, yang penting prestasi belajarku harus bagus, supaya dapat melanjutkan sekolah lebih tinggi.  Kawan kawan selalu mengatakan bahwa aku lebih pintar dari mereka, karena waktuku sehari-hari hanya belajar dan membaca buku.  Sedangkan mereka dibebani pekerjaan yang cukup berat dari orang tua.   Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena ada juga sahabatku yang mempunyai tugas berat dari orang tuanya, tetapi disekolah dia selalu mendapat nilai yang bagus.

 

Musim panen sudah tiba.   Untuk persiapan panen, kami sudah membuat tikar alas tumpukan sabitan padi yang nantinya setelah semua disabit dikumpulkan disitu.  Keesokan harinya, padi itu diirik, untuk melepaskan bulir padi dari jeraminya.   Selesai diirik, dianginkan untuk memisahkan padi yang berisi dengan padi yang hampa.  Untuk itu dibutuhkan angin yang kencang.  Untuk memancing angin, kami biasanya menyalakan api. Sambil bersiul dan berteriak memanggil angina dengan bibir monyong berbunyi puuuuuuuur, puuuuur.  Aku sendiri tidak yakin ada manfaatnya teriakan itu, tapi selalu dilakukan tatkala menganginkan padi yang baru diirik.  Setelah dipisahkan padi yang bernas dengan yang hampa, maka padi bernas dijemur sampai kering di panas matahari.  Setelah kering dibawa ke desa dengan pedati atau kereta lembu, dimasukkan kedalam lumbung.  Setiap kali beras di rumah sudah hamper habis, maka padi dari lumbung dikeluarkan barang sekarung dua, dapat ditumbuk sendiri dengan lesung atau dibawa ke mesin gilingan padi.  Beras hasil tumbukan lesung jauh lebih bermutu dari hasil gilingan padi, karena kandungan vitamin B- nya jauh lebih banyak.

Ketika masa panen, kita biasanya potong ayam, famili-famili kita ajak bergotong royong ke sawah kita.  Ada yang menyabit padi, ada yang mengantar ketempat pengirikan, ada yang mengirik, ada yang memisah jerami dengan padi, terakhir adalah menganginkan.  Anak anak biasanya berlari berkejar kejaran sambil bermain layangan. Sore hari setiap keluarga yang membantu dibekali satu sumpit padi, beratnya kira kira sepuluh kilogram.

Sebagai upahku selama masa menjaga padi dan menghalau burung, akan dibelikan pakaian dan tas sekolah yang baru.  Pernah sekali aku minta dibelikan sepeda sama ibu, tapi katanya padi kami tidak mencukupi kalau untuk membeli sepeda.  Cita citaku membeli sepeda jengki kandas.  Untuk sementara aku tetap memakai sepeda besar milik ayah yang ditinggal di kampung. 

Ketika aku naik ke kelas lima, ayah menjemputku ke kampong dan dibawa ke kota. O ya aku lupa menceritakan bahwa sebenarnya  aku lahir di kota, ayah saya seorang pengelola Pompa bensin, istilah sekarang adalah menejer.  Ketika itu ibu saya mempunyai kios di pasar untuk berjualan pisang.  Tapi ketika aku masih berumur lima tahun, ibuku menjual kios pisangnya, untuk menebus sawah kakek yang pada masa awal kemerdekaan digadaikan kepada orang lain.  Sejak itu aku dibawa ibu ke kampung/desa, sementara ayah dengan tiga orang kakakku yang semuanya perempuan saat itu  yang paling tua bersekolah di SGA, yang nomor dua di SPMA dan yang paling kecil SMP kelas satu.  Selisih umurku dengan kakakku yang kecil adalah delapan tahun. Lima tahun aku hidup di desa bersama ibu, aku dijemput ayah, sementara ibu bertahan di desa mengurus lading dan sawah warisan kakek kami. Jarak dari kota kabupaten dengan desa kami empat belas kilometer, ditempuh ayah dengan sepeda selama empat puluh menit.  Sepuluh kilometer jalannya jalan aspal  jalan propinsi. Empat kilometer jalan kampung. Kendaraan umum hanya ada seminggu sekali, yakni pada hari Senin, ketika di kota kabupaten sebagai hari pasar atau hari pekan.

Sejak aku bersekolah di kota, setiap  hari Sabtu aku ke desa bersama ayah, dengan bersepeda.  Di kampung  kami memancing dan mencari ikan di kolam.  Ibu kadang kadang menyuruh kami membantu pekerjaannya di sawah atau di ladang.  Tetapi ayah saya tidak terampil mencangkul, sehingga ibu kadang kadang jengkel melihatnya dan menyuruh kami pergi saja ke sungai memancing.  Membuat beliau ikut ikutan malas katanya. 

Sebenarnya kami tak pernah menghasilkan banyak ikan, tapi ayah tak pernah bosan.  Ikannya juga kecil kecil.  Ikan hasil pancingan itu dimasak ibu dengan bumbu pedas, kadang-kadang dengan terong dan asam asaman.  Rasanya asin dan pedas. Memasaknya menggunakan periuk tanah, supaya aromanya lebih gurih dan tahan lama, tidak basi. Ikan yang telah dimasak itu kami bawa ke kota untuk lauk kami dengan kakak. 

Ketika aku memasuki kelas dua SMP, kelasku mendapat  anak murid baru pindahan dari kota lain.  Perempuan yang cantik menurutku, dan yang membuatku penasaran adalah otaknya yang sangat cerdas.  Dia ikut ayahnya yang pindah tugas dari kota lain.  Ayahnya seorang jaksa, seorang sarjana hukum.  Ayah saya menyebutnya mesteer.  Dia sudah menjadi langganan ayah saya dengan sedan Fiat 131 yang menurutku sangat hebat, karena sebenarnya mobil dinas di kota kami belum banyak, masih puluhan saja. Nama gadis itu  Feriana boru Sinaga, dipanggil teman teman Eri.  Aku sendiri memanggilnya Ana, dan dia menyikapinya dengan biasa biasa saja.  Model rambutnya dipotong pendek, dan anting antingnya menggantung.  Masih jarang di kota ku seperti itu.  Dia bersepeda jengki yang sangat bagus dan berkilap.  Kecerdasannya membuat aku mulai tersisihkan di kelas.  Hanya dibidang seni suara, dia kalah denganku, karena untuk yang satu ini, seluruh kota juga mengetahui siapa aku.  Kebetulan ayahku pemimpin senuah grup kesenian tradisional, sehingga aku banyak mengenal  pemusik tradisi.  Yang membuat aku sangat kagum padanya adalah ketika kulihat dia menyetir mobil sedan ayahnya ke pompa minyak, dan kebetulan aku sedang ada kepentingan menemui ayah disana.  Walaupun pompa bensin itu bukan milik kami, tetapi aku cukup bangga menjadi anak seorang pengelola pompa bensin.  Kapan ya, aku bisa menyetir mobil seperti dia, fikirku dalam hati.  Aku ingin belajar mengemudi mobil, supaya bias menyaingi dia.  Ketika sekali waktu Pak Simanjorang meninggalkan mobil tangki di rumah kami, halaman rumah kami memang luas, ukurannya lima puluh kali tigapuluh meter, kuncinya ditinggalkan juga di rumah, karena dia menjenguk saudaranya yang sakit di desa yang letaknya tidak jauh dari kota kami.  Aku ambil kunci kontaknya, kunaiki mobil tangki itu, mereknya Fargo, Made In  USA, kuhidupkan mesin, dan berhasil.  Kemudian kucoba masukkan gigi satu, mobil berkapasitas sepuluh ribu liter itu bergerak, tikungan pertama masuk jalan aspal, aku selamat.  Seratus meter kemudian, di simpang empat Gedung Nasional, aku berusaha belok lagi ke kiri.  Banyak teman-teman yang sedang bermain di Gedung Nasional, melihat saya membawa mobil tangki.  Rupanya aku terlalu cepat mengambil tikungan, ban belakang masuk ke parit besar dan ban depan sebelah kanan naik ke udara, mesinnya menjerit lalu mati.  Semua orang berkerumun.  Disudut simpang itu ada perusahaan pemborong atau kontraktor bangunan jalan bernama CV. Sagala & Son, yang memang kenal baik dengan keluarga kami.  Dibawanya mobil doser  dan mobil tangki itu ditarik.  Beberapa menit berselang ayahpun dating dari  pompa bensin.  Kejadian itu rupanya jadi ceritra di sekolah dan saya diolok olok kawan bercita cita jadi supir mobil tangki.  Padahal maksud hati ingin menyaingi gadis yang baru pindah ke kelas kami.

Karena tak tahan dengan kegalauan hatiku, aku mengadu kepada kakak yang nomor dua. Aku katakana, tidak ada modalku untuk menarik perhatiannya.  Lalu kata kakak, kalau dia memang cerdas, kalahkan dia.  Dengan kamu bias mengalahkan dia, maka kamu akan dikaguminya.  Dorongan itulah yang membuatku bersemangat untuk belajar.  Aku mulai pelit untuk memberi info ataupun menghindari curah pendapat dengannya, agar ilmuku tidak dicurinya.   Tapi sikapku itu rupanya menjadi aneh baginya, dan sekali waktu, ketika kami hanya berdua didalam kelas dia bertanya, mengapa aku akhir akhir ini menjauh dari kawan kawan.  Aku katakan aku harus belajar lebih keras, karena ada target yang harus kucapai.  Dan dia memuji aku dengan tekadku yang kuat itu. Akhir kelas dua, prestasiku benar benar gemilang dan aku mendapat predikat yang terbaik, dan dia menjadi peringkat kedua.  Waktu pulang dari sekolah, dia dijemput ayahnya, dan aku diajak ikut naik mobil sedan yang keren itu.  Harum dan sangat menyenangkan.  Ayahnya melihat raut kekagumanku, lalu katanya, jikalau aku dapat mempertahankan prestasiku, maka kelak akupun bias mendapatkan mobil seperti miliknya itu.  Malamnya aku bermimpi mendapat mobil semewah itu, dan Ana kuajak jalan jalan.  Tentu saja aku yang nyupir dan tidak masuk parit.  Tapi ternyata baru sebatas mimpi.

 

 

 

Oleh: mabiringna | Agustus 24, 2008

PERJUANGAN DAN TILAS PEJUANG

Dua tahun lalu, keluarga besar Generasi Penerus Pejuang Eks TNI Sektor III Sub Territorium VII kedatangan tamu dari Yayasan Purna Juang, yakni Bapak Mayoor Purnawirawan  Oetario, yakni Eks Ajudan dari  Panglima Terr VII Wilayah Sumatera,  Kol. AE. Kawilarang. 

Ketika kami sampai di bukit yang dipenuhi padang ilalang itu,   Eks Mayoor yang sudah tua itu dengan tertatih tatih naik keatas Bukit Silimbur Rih, di Desa Bawang Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun.  Tugu tersebut didirikan oleh para pejuang sebagai peringatan atas peristiwa tertembaknya Bapak Aleks Kawilarang di lokasi tersebut oleh tentara Belanda pada pertempuran Karo Area (meminjam istilah mendiang Kol. AR. Surbakti) pada tahun 1949.    Pertempuran itu sendiri terjadi ketika Rombongan Panglima akan bergerak dari Simalungun Atas menuju Karo Selatan, dan titik pos peristirahatan sudah ditetapkan di Desa Bawang, tanah kelahiran ayah saya.

Kembali ke awal cerita, rombongan para pejuang dari Jakarta, selain dari yayasan Purna Juang pimpinan seorang Profesor, (mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia), juga ada serombongan dari Yayasan Bina Anak Indonesia, yang telah mempelajari partisipasi dan pengorbanan rakyat ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa khususnya masa Agresi I dan Agresi II, terdorong hatinya (setidaknya demikian yang mereka sampaikan) untuk membangun sekolah, sejenis dengan  yang sudah berdiri  di Jawa Barat.  Konon rencana ini disetujui juga oleh bapak Prof. Dr. Subroto, yang ketika itu ceritanya sedang berada di Wiena Austria.

Selanjutnya, dua tahun setelah itu, hari ini dua belas agustus dua ribu delapan, aku (sendirian dari kota) hadir kembali di bukit berdirinya Tugu Peringatan Perjuangan tersebut.  Perjalananku kali ini hanya ditemani oleh keponakanku, seorang sekretaris desa (Sekretaris Nagori) bernama Leutnan. Nama ini bersejarah dari  cita-cita  bapaknya seorang prajurit TNI yang ternyata pensiun dengan pangkat Sersan Mayoor, tidak mampu mencapai Letnan.

 Disamping tugu yang ada di Desa Bawang, masih ada beberapa tugu yang didirikan atas dasar  pertempuran TNI Sektor III dengan tentara penjajah antara tahun 1947 – 1949. Yang cukup megah bangunannya adalah di Desa Bertah Kecamatan Kabanjahe, peringatan atas pertempuran yang sangat sengit dan menewaskan Komandan Kompi  Batalion I  Kapten Pala Bangun.  Di Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi, persisnya di Desa Lau Meciho, juga ada tugu peringatan yang mengenang pertempuran yang dipimpin oleh Mayoor Selamat Ginting yang dikenal dengan istilah Pa Kilap (Halilintar). Juga di desa Kempawa, desa Rante Besi, desa Juhar Perinte.  Dan saya ragu apakah tugu tugu itu ada yang mengunjung pada hari-hari semarak ini.

Dalam keheningan kami berdua diatas bukit itu, kusenandungkan lagu perjuangan yang diciptakan oleh Almarhum Djaga Depari pada masa perjuangan itu, (Penerima Anugerah Seni dari Presiden Republik Indonesia Tahun 1979).  Mari kita dengarkan sama sama.

SORA MIDO

OLEH DJAGA DEPARI

 

TERBEGI SORA BULUNG BULUNG ERDESO

IBABO MAKAM PAHLAWAN SILINO

BANGUNNA SORA SERKO MEDODO

CAWIR CERE SORANA MIDO IDO 2X

 

SERAWIDIPUL MESENG KUTANTA NDUBE

ILUH SI LUMANG RAS SIBALU BALU ERDIRE DIRE

SORA NDEHERENG PE RENGE RENGE KAL ATE

TINATA NGAYAK NGAYAK MERDEKA NDUBE 2X

 

ENGGO KAP MEGARA LAU LAWIT BAN DAREH SIMBISANTA

ENGGO KAP MEGERSING LAU PAYA IBAN ILUH TANGISTA

ENGGO KAP MBIRING LANGIT PERBAN CIMBER MESENG KUTANTA NDUBE

DE NGAYAK NGAYAK GELAH MERDEKA NDUBE 2X

 

EMAKA TANGARLAH SINCIKEP LAYAR LAYAR

OLA MERANGAP OLA JAGAR JAGAR

KESAH RAS DAREH KAL NDUBE TUKURNA MERDEKA ENDA

OLA KAL LASAM PENGORBANEN BANGSANTA 2X

 

TEGU ME DAGE BAPA NANDE SIENGGO CEMPANG

DIDONG DOAH ANAK SIENGGO LAMPAS TADING MELUMANG

KELENG ATETA RAS PEDAME SI SADA KARANG

EM PERTANGISEN KALAK LAWES BERJUANG 2X

 

TERJEMAHAN

 

TERDENGAR SUARA GEMERISIK DEDAUNAN

PADA SEBUAH MAKAM YANG SEPI

BAGAIKAN SUARA  RINTIHAN  TERSEDU SEDU

SAYUP SAYUP MENDAYU DAYU PILU

 

GUMPALAN ASAP  TERBAKARNYA KAMPUNG KITA

AIR MATA ANAK YATIM DAN JANDA –JANDA  BERDERAI DERAI

SUARA RINTIHAN PUN MEMBAWA DUKA SEMAKIN PILU

INILAH KARENA MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN

 

AIR LAUT PUN MEMERAH TUMPAHAN DARAH PAHLAWAN

AIR PAYA DAN RAWA PUN MENGUNING TUMPAHAN AIR MATA RAKYAT

LANGITPUN MENGHITAN KARENA ASAP API PEMBAKAR KAMPUNG

DEMI MEMPERJUANGKLAN SEBUAH KEMERDEKAAN

 

OLEH SEBAB ITU TEGARLAH WAHAI PEMIMPIN BANGSA

JANGAN RAKUS DAN JANGAN BERMAIN MAIN

SEBAB NYAWA, DARAH DAN AIRMATA TEBUSAN KEMERDEKAAN INI

JANGAN SIA SIAKAN PENGORBANAN BANGSA

 

PAPAHLAH PARA ORANG TUA KITA YANG TELAH CACAD DALAM PERANG

PELIHARA DAN ASUHLAH ANAK-ANAK YATIM PIATU KARENA PERANG

CINTA KASIH  DAN DAMAI DIDALAM SATU KESATUAN

ITULAH PERMINTAAN ORANG PERGI BERJUANG

ITULAH HARAPAN ORANG YANG PERGI BERJUANG…………………………………..

  

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA, MERDEKAAAAAAAAAA.

 

 

Oleh: mabiringna | Agustus 24, 2008

Tuhan Membatasi PemberianNya demi Keselamatanmu.

Pada sebuah pembicaraan di Bengkel Mobil Pattimura Service, Jalan Setia Budi kota Medan, aku berbincang bincang dengan Buyung Botak, seorang  penarik Betor (Necak Bermotor) yang biasa mangkal di Jalan Kapten Muslim, tepatnya didepan Millenium Plaza, plaza handphone terbesar di Sumatera bagian Utara.   Yang membuatku tertarik adalah  pengakuannya bahwa dia bersyukur diberi Tuhan rejeki hanya cukup makan, pakaian dan biaya sekolah anaknya yang baru kelas dua sekolah dasar negeri.  “Kalau aku dikasi Tuhan rejeki besar, bisa-bisa tercerai berai aku dengan anak biniku” demikian dia berseloroh sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.   Ketika kutanyakan apa kaitan rejeki besar dengan cerai berai, dia katakan begini, “Pernah sekali waktu aku disuruh A Hok (pedagang HP) mengantar dua kardus kesing ke Binjai, upah ku tiga ratus limpul (Rp. 450.000,_), pulang pulangnya, hampir aku mampir  ke Rumah Kitik-kitik (hotel yang disewakan per jam dan penyedia tukang pijat).  Kan sudah kotor otakku ini.  Jadi baguslah sedikit pendapatan agar tidak terjerumus.”

Sepulang dari bengkel si Ginting itu, kucoba berdialoog dengan hatiku sendiri.  Betul juga ya, kalau si tukang beca itu jadi orang kaya, asik main perempuanlah kerjanya.   Barangkali banyak manusia di dunia ini, dibuat Tuhan rejekinya pas-pasan, karena menjaga jangan sampai dia terjerumus ke lembah nista.  Lalu bagaimana dengan mempunyai rejeki besar tapi sudah menyalaaaah……….

Oleh: mabiringna | Agustus 24, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori